Akan menjadi sebuah mimpi buruk bagi kita semua, jika anak-anak kita adalah salah satu korban dari penyimpangan yang mereka lakukan (pedofil). Seperti yang kita tahu bahwa begitu banyaknya kasus yang melibatkan anak-anak dibawah umur. Dan semakin meningkatnya kasus pedofilia menyebabkan kegelisahan tersendiri bagi para orang tua. Terenggutnya keceriaan masa kanak-kanak dan gambaran suram akan masa depan akibat pedofilia membuat orang tua harus ekstra waspada untuk mengawasi anak-anak mereka agar tidak menjadi korban pedofil-pedofil tak bertanggung jawab.

Seperti yang terlihat dan diketahui bahwa hampir semua pedofil adalah pria, namun tidak menutup kemungkinan bagi wanita mengidap pedofilia. Data yang akurat belum berhasil dikumpulkan karena mayoritas pasien menutup dirinya dari masyarakat. Penelitian penyakit ini dilakukan pada pedofil yang melakukan kekerasan seksual, maka dari itu hasilnya masih belum pasti. Nah untuk mengetahui lebih dalam mengenai apa itu pedofil dan mengapa mereka begitu menyukai anak-anak dibawah umur, simak terus ulasan berikut ini.

Pengertian Pedofil

Pedofilia adalah kelainan psikoseksual, di mana orang dewasa atau remaja memiliki preferensi seksual terhadap anak-anak praremaja. Gangguan ini juga dianggap sebagai parafilia, yang adalah sekelompok gangguan yang didefinisikan sebagai aktivitas seksual yang abnormal. Ketika fantasi atau tindakan seksual melibatkan seorang anak atau lebih, sebagai cara yang lebih disukai untuk mencapai gairah dan kepuasan seksual bagi seseorang, maka orang itu dianggap sebagai pedofil.

Gangguan ini juga dianggap sebagai parafilia, yang adalah sekelompok gangguan yang didefinisikan sebagai aktivitas seksual yang abnormal. Menurut media massa, pedofilia lebih dikenal sebagai aksi pelecehan anak. Definisi ini kurang tepat dan tidak akurat dalam menggambarkan situasi pasien yang menyebabkan kesulitan pada penelitian dan pengumpulan data penyakit ini.

Meskipun tidak ada standar atau karakter khusus tentang mereka, akan tetapi telah disepakati salah satu karakter yang selalu menjadi ciri meraka. Dalam satu hal tertentu, mereka selalu tertarik secara seksual pada satu golongan usia tertentu. Beberapa diantara mereka sangat tertarik pada anak-anak (usia 5-10 tahun) sementara lainnya memiliki penimpangan ketertarikan kepada anak-anak remaja (usia belasan tahun).

Sementara berdasarkan diagnosa medis, pedofilia termasuk salah satu gangguan kejiwaan. Gangguan kejiwaan pedofilia ini terbagi menjadi 3 jenis, yaitu:

  1. Immature Pedophiles, yakni pedofilia yang cenderung melakukan pendekatan pada target (anak-anak) dengan memberikan iming-iming pada korban
  2. Regressed Pedophiles, pelaku pedofilia ini beraksi dengan langsung memaksa korban tanpa memberikan iming-iming tertentu (rayuan/bujukan terhadap mangsanya).
  3. Agresive pedophiles, yakni pedofilia yang paling parah, dimana pelaku pedofilia memiliki keinginan untuk menyerang korban, bahkan berpotensi membunuh korban setelah dinikmati.

Faktor-faktor biologis telah dilakukan. Beberapa faktor dan teori-teori dalam menentukan penyebab pedofilia, seperti:

  • IQ rendah dan ingatan jangka pendek.
  • Kurangnya white matter pada otak.
  • Kurangnya testosteron.
  • Masalah-masalah otak.

Masalah pada otak adalah penyebab yang paling diterima di antara faktor-faktor tersebut. Pada orang normal, melihat anak-anak membuat otak mereka secara spontan menghasilkan gelombang saraf untuk meningkatkan insting-insting melindungi dan menyayangi; pada pedofil, gelombang saraf tersebut terganggu dan berakibat meningkatnya gairah seksual.

Beberapa paedofil membatasi perilaku mereka hanya dengan cara mengekspos diri di depan anak-anak. Tapi, ada juga yang melakukan sesuatu yang lebih jauh, misalnya seks oral atau seks genital penuh. Mereka cenderung memilih anak yang sudah mereka kenal, baik itu keluarga, tetangga, anggota tim atau komunitas yang diikuti juga oleh Si Pedofil dan lain sebagainya.

Kesamaan Karakter Para Pedofil

Meskipun tidak ada stereotip pedofil yang khas, para pedofil memiliki beberapa karakteristik umum, yang meliputi:

1. Memiliki fantasi keinginan atau perilaku seksual terhadap anak-anak.
2. Merasa lebih baik/nyaman bila dirinya berada disekitar anak-anak.
3. Biasanya sosok pedofil adalah orang yang populer dan sangat disukai di kalangan anak-anak dan orang dewasa di lingkungannya.
4. Biasanya, namun tidak selalu pedofil adalah pria dan maskulin dan berusia 30-an.

Lalu Apa Yang Menyebabkan Seseorang Menjadi Pedofil?

Mungkin banyak dari kita yang begitu mengutuk para pelaku kejahatan seks terhadap anak ini, namun pernahkah terbenak dalam hatimu, mengapa seseorang bisa menjadi sekejam itu? Beberapa ahli mengatakan bahwa salah satu kemungkinan penyebab pedofilia adalah kelainan perkembangan saraf.Tercatat, ada perbedaan dalam struktur otak di diri pedofil, tepatnya di bagian frontocortical, jumlah materi abu-abu, unilateral, bilateral lobus frontal dan lobus temporal dan cerebellar.

Menurut penelitian, perbedaan ini mirip dengan orang-orang dengan gangguan kontrol impuls, seperti OCD, kecanduan dan gangguan kepribadian antisosial. Kelainan otak itu mungkin terjadi saat bayi atau dalam kandungan ketika otak sedang terbentuk. Namun, gangguan stres pasca-trauma juga bisa menyebabkan kelainan otak. Banyak ahli berasumsi bahwa penyebab utama datang dari faktor psikologi sosial, bukan biologis. Beberapa dokter menyatakan bahwa faktor yang mempengaruhi kepribadian pasien adalah latar belakang keluarga yang tidak normal.

Dilecehkan pada usia dini juga dapat menjadi penyebabnya. Secara keseluruhan, melalui dampak dari disfungsi otak dan pengembangan traumatis, sehingga dorongan seksual dan keinginan untuk anak-anak dapat menjadi tertanam dalam sistem saraf seseorang. Etiologi pedofilia dapat dikaitkan dengan kedua faktor biologis dan lingkungan.

Studi kasus menunjukkan bahwa disfungsi serebral mungkin berkontribusi atau faktor dominan pedofilia, termasuk masalah dengan pengendalian diri, dorongan ekstrim dan distorsi kognitif. Dan berikut beberapa faktor yang menyebabkan seseorang menjadi sosok pedofil.

1. Pengalaman Masa Kecil

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, bahwa rata-rata dari mereka yang memiliki pengalaman buruk saat masik kecil kerap mejadi sosok yang misterius dan mengerikan seperti halnya pedofil. Dalam studi dan artikel yang ditulis oleh sosiolog Richard Hall dan Ryan Hall, kebanyakan pedofil pernah mengalami pelecehan seksual di masa kecilnya, atau hal lain yang berkaitan dengan masalah seksual.

Selama enggak ditangani dengan baik oleh psikolog dan psikiater, seorang korban pelecehan seksual di masa kecil, atau anak-anak yang terbiasa dengan pornografi anak (misalnya, nonton pornografi anak, dll), bisa berpotensi menjadi pedofil. Untuk faktor sosial yang satu ini, orangtua dan orang terdekat lain memang harus menjaga banget supaya anak enggak terkena pelecehan seksual, atau menyantap konten-konten yang enggak seharusnya dikonsumsi anak-anak.

2. Kelainan Pada Otak

Umumnya, semakin rendah tingkat kecerdasan seorang pedofil semakin muda korban yang disukainya. Perbedaan neurologis lain yang ditemukan pada para pedofil adalah cenderung memiliki tingkat kecerdasan yang lebih rendah dibanding kebanyakan orang lain. Sejumlah besar penelitian, salah satunya studi oleh Hucker et al tahun 1986, menunjukkan bahwa pedofil memiliki kelainan otak yang ditemukan di lobus temporal.

Peneliti juga menemukan adanya perbedaan serotonin agonis (senyawa yang mengaktifkan reseptor serotonin) pada pedofil yang diuji dalam studi. Selain itu, peneliti melihat adanya peningkatan level pedofilia pada orang-orang yang pernah menderita luka kepala serius ketika kecil, terutama sebelum usia enam tahun. Kelainan yang diderita pedofil ini sama aja kok kayak penyakit-penyakit lain. Dan seharusnya kelainan ini enggak dipupuk, tetapi diobati. Nah, kalau ada orang terdekat kalian yang memiliki bibit pedofil, apa yang harus kalian lakukan? Segeralah bawah orang tersebut untuk ke psikiater supaya mendapatkan penanganan sesuai.

3. Permasalahan Tumbuh Kembang

Seiring dengan bertambahnya umur, fantasi seksual mereka bisa jadi masih sama: sama-sama berfantasi tentang temen-temen sebayanya itu. Padahal, usia mereka udah dewasa dan ini nih yang kemudian membuat mereka terjebak pada kesenangan seksual yang sama. Beberapa teori mengatakan, mungkin para pedofil telah mengalami masalah perkembangan psikoseksual sejak dini disebabkan oleh stres atau trauma ketika mereka masih anak-anak. Studi Lanyon tahun 1986 menduga, stres atau trauma ini menyebabkan tumbuh kembang mereka terhambat atau mundur dan diwujudkan dalam kesukaan mereka berfantasi atau melakukan aktvitas seksual dengan anak-anak.

Dapatkah Pedofil Disembuhkan?

Pengobatan terhadap gangguan ini sangat penting, meskipun jarang ada pedofil yang mencari pengobatan sendiri. Kebanyakan mereka berobat karena perintah pengadilan. Bentuk paling umum pengobatan pedofilia adalah psikoterapi dan/atau obat. Pengobatan ini cenderung efektif. Tapi, banyak pedofil yang kemudian kambuh lagi. Jika Anda merasa Anda mungkin menderita pedofilia, segera cari bantuan psikolog atau psikiater profesional.

Pedofilia adalah penyakit kronis. Pengobatan Anda harus difokuskan untuk mengubah perilaku untuk jangka panjang. Pengobatannya berupa tindakan observasi dan antisipasi dari tindakan kriminal. Sekelompok dokter-dokter psikis akan dikerahkan untuk mendukung para pasien.

Anda terkadang akan dianjurkan untuk mengonsumsi pengobatan untuk mengurangi libido seperti medroxyprogesteron asetat, obat-obatan yang mengurangi testosteron dan penghambat serotonin. Lebih lagi, pedofil perlu pengobatan untuk kecanduan alkohol atau stimulan. Nah Penanganan psikologis dapat dilakukan dengan meminta pedofil berfantasi tentang anak lalu memberikannya obat yang menimbulkan rasa mual pada saat itu juga. Lama kelamaan pelaku akan menganggap hasrat seksual terhadap anak itu tidak menyenangkan.

Pedofil juga dapat diterapi dengan mengubah pola pikirnya. Mereka diminta berfantasi seksual tentang anak namun mengubah akhir cerita sekreatif mungkin asalkan bukan lagi berhubungan seksual dengan anak. Dan menurut Yuri Grebchenko, MD, yang telah melakukan banyak riset untuk kasus pedofilia, menyatakan bahwa pedofilia merupakan penyakit seumur hidup sehingga diperlukan pengobatan yang seumur hidup pula. Studi terbaru menunjukkan bahwa psychotherapy serta pharmacoteraphy merupakan kombinasi terapi yang tepat bagi penderita pedofilia.

Psychotherapy melibatkan penderita pedofilia untuk membicarakan mengenai trauma masa lalu yang membuatnya menjadi seperti sekarang ini. Terapis akan berusaha untuk mencari tahu hal apa saja yang dapat membuatnya ingin melakukan kekerasan seksual pada anak kecil. Nah, meskipun para ahli banyak yang berpikir bahwa pedofilia tidak dapat diobati, terapi dapat membantu orang-orang pedofil mengatur perasaan dan tidak melakukan dorongan seksualnya di kehidupan nyata. Beberapa pasien yang tidak mampu mengontrol dorongan seksualnya memang membutuhkan obat untuk mengurangi hasrat seksulanya.

Terbilang sangat mengerikan ya guys mengenai kasus ini, pasalnya jiwa dan masa depan anak akan hancur akibat ulah pedofil. Maka dari itu sebaiknya perhatikanlah anak sebaik mungkin. Dan untuk orang tua ada baiknya perhatiakn tumbuh kembang anak agar tak menjadi bibit pedofil. Dikatakan sebagai bibit pedofil, bibit-bibit pedofil ini memang harus diberantas dari akarnya. Kasih perhatian lebih ke anak kecil dan coba kenali beragam masalahnya. Meski bisa dikategorikan sebagai penyakit kejiwaan, pedofilia itu bisa dicegah dan diobati.