Bagi mereka yang pernah mengalami patah hati, tentunya akan sangat mengerti bagaimana kondisi hati dan fisik yang mereka alami saat itu. Kesedihan yang mendalam, kekecewaan yang berlipat, keputusasaan yang mendera, perasaan tidak dihargai, menjadikan suatu yang menyakitkan hati itu akan berdampak kepada fisik.

Patah hati menyebabkan seseorang cenderung memilih untuk menarik diri dari keramaian. Seseorang yang baru saja patah hati lebih senang menyendiri dan merenung berlama-lama. Hal tersebut lah yang kemudian menimbulkan suatu kecemasan berlebihan yang bernama sindroma patah hati (‘Broken Heart Syndrome’).

Apa Itu Broken Heart Syndrome?

a

Adalah gangguan jantung sementara yang diakibatkan oleh situasi yang membuat penderitanya tertekan atau stres. Dalam terminologi medis, patah hati bukan sekadar masalah seseorang yang mengalami putus cinta, melainkan bisa karena kehilangan seseorang yang sangat dicintai, seperti suami, istri, anak/cucu, atau sahabat karib. Penyakit berat nonkardiak (masalah primernya bukan pada jantung) juga bisa menjadi pencetus kelainan ini.

Awalnya kondisi ini disebut dengan takotsubo cardiomyopathy, namun belakangan kondisi ini juga merujuk pada cardiomyopathy yang dipicu oleh stres atau sindrom balon apikal (apical ballooning syndrome). Penderita sindrom ini tiba-tiba akan mengalami nyeri dada atau merasa mengalami serangan jantung. Gejalanya sendiri disebabkan oleh reaksi jantung terhadap munculnya hormon stres atau kortisol ketika si penderita dihadapkan pada situasi yang tertekan.

Gejala Broken Heart Syndrome

  1. Terjadi dengan cepat sesaat setelah mengalami stress yang berat.
  2. Nyeri dada seperti tertekan benda besar.
  3. Napas pendek dan sesak napas yang tiba-tiba.
  4. Nyeri lengan/punggung.
  5. Tenggorokan terasa tercekik.
  6. Nadi tidak teratur dan jantung berdebar-debar (palpitasi).
  7. Tiba-tiba pingsan (sinkop).
  8. Sebagian kasus bisa mengalami syok kardiogenik (sebuah keadaan di mana jantung tidak bisa memompa darah sesuai kebutuhan tubuh sehingga berdampak kematian).

Mengobati Broken Heart Syndrome

broken-heart-syndrome (1)

Pencegahan yang utama adalah manajemen stress. Seorang yang sedang mengalami masalah perlu bersikap dan berpikir dengan luas dan komprehensif. Selalu bijaksana dan melihat persoalan dari berbagai sudut pandang dan pendekatan. Pola hidup yang seimbang perlu dilakukan, terutama pola makan, aktivitas fisik, dan pola berpikir serta berperilaku.

BHS dapat sembuh tanpa meninggalkan kecacatan permanen pada ventrikel jantung, berbeda dengan penyakit jantung koroner yang meninggalkan sisa pada struktur jantung. Hanya saja, dalam sebagian kasus bisa menyebabkan kondisi yang fatal atau kematian bila pasien yang terserang BHS tidak mendapat pertolongan segera. Dokter biasanya memberikan pengobatan suportif.

broken-heart

Patah hati adalah suatu metafora umum yang digunakan untuk menjelaskan sakit emosional atau penderitaan mendalam yang dirasakan seseorang setelah kehilangan orang yang dicintai, melalui kematian, perceraian, putus hubungan, terpisah secara fisik atau penolakan cinta.

Patah hati biasanya dikaitkan dengan kehilangan seorang anggota keluarga atau pasangan hidup, meski kehilangan orang tua, anak, hewan peliharaan, orang yang dicintai atau teman dekat bisa “mematahkan hati seseorang” dan sering dialami ketika sedih dan merasa kehilangan.

Namun, pernahkah kamu bertanya, mengapa ketika hendak merasa sakit hati, rasanya itu sakit banget? Dan bahkan terasa seperti tertusuk pisau? Yah, itu ungkapan yang mereka katakan ketika dihadapkan dengan namanya patah hati.

Penjelasan Ilmiah Kenapa Patah Hati “Terasa Sakit”

depresi

Nah selama ini, kita hanya ngebahas masalah cinta mengenai sakit yang timbul akibat dari patah hati. Namun banyaknya kita belum paham akan rasa sakit yang timbul dari diri akibat patah hati. Kebanyakan mereka hanya mengetahui rasa sakit itu berasal dari hati yang tak dapat mengontrol rasa rindu dan sakit akibat ditinggalkan seorang yang ia cintai.

Hal ini seolah-olah seperti tertekan oleh beban yang amat berat dari dada hingga ke jantung. Tapi, tahukah kalian bahwa sensasi rasa sakit yang ditimbulkan tersebut memiliki fakta secara ilmiah? Dan ternyata hal itu tidak selalu berkaitan dengan kondisi mental yang sedang kita alami, tetapi juga dipengaruhi oleh zat-zat hormon yang bekerja dalam tubuh kita. Bagaimana proses tersebut dapat terjadi? Yuk, mari kita simak informasinya.

  • Adanya Sinyal Dari Otak

otak

Rasa sakit yang kita alami saat patah hati bermula dari adanya sinyal-sinyal yang dikirimkan melalui otak ke sel sel tubuh kita. Seperti yang diungkapkan oleh Naomi Eisenberger, PhD. dari University of California bahwa ketika manusia mengalami rasa patah hati misalnya saja karena putus cinta atau ditolak oleh orang yang kita sukai, otak tidak dapat mengatasinya sendirian.

Karena itulah, otak akan mentransmisikan sinyal kepada tubuh dan memberitahukan bahwa yang kita alami saat itu adalah rasa sakit. Sehingga, seolah-olah kita merasakan sakit seperti tertekan di bagian dada.

  • Adanya Pengaruh Hormon

hormon

Pada dasarnya di dalam otak manusia terdapat beberapa jenis hormon yang mempengaruhi keadaan emosi dan perasaan kita. Beberapa di antaranya adalah hormon cortisol, dopamine, neropinephrine dan serotonin. Hormon-hormon tersebut sangat berpengaruh terhadap keadaan psikologis seseorang.

Hormon cortisol dikenal juga sebagai hormon pemicu stress. Hormon dopamine adalah hormon yang dapat menstimulasi perasaan senang dan pleasure. Hormon neropinephrine adalah hormon yang memberikan efek rasa super gembira ataupun keceriaan. Dan yang terakhir adalah hormon serotonin yang merupakan mood stabilizer sekaligus kontributor bagi timbulnya perasaan bahagia.

Nah, kinerja hormon dopamine tersebut dapat terhambat apabila kita merasa sedih, marah, ataupun emosi terutama karena patah hati. Kedua hormon tersebut akan pergi dan sebagai hasilnya akan menyebabkan munculnya hormon pemicu stress atau lebih dikenal dengan hormon cortisol.

Hormon cortisol biasanya muncul ketika kita dalam keadaan stress, tertekan, ataupun terancam dan berfungsi memberikan reaksi perlawanan. Contohnya saja ketika kita menghadapi situasi genting, hormon ini akan memicu gerakan otot untuk menghindarinya seketika.

Saat mengalami patah hati, hormon ini akan bereaksi ke tubuh misalnya ke dada yang dapat menyebabkan rasa sakit tertekan dan terganggunya sirkulasi darah. Tak hanya itu, hormon ini juga berpengaruh terhadap fisik kita (terutama sistem imun) sehingga mudah terserang gejala penyakit.

Penting untuk kita ketahui bahwa patah hati memiliki efek samping yang negatif bagi kita baik secara fisik dan psikis. Jangan sampai karena frustrasi akibat patah hati, kualitas hidup kita jadi menurun. Seperti yang dijelaskan bahwa patah hati adalah penyakit yang nyata. Bahkan patah hati dapat mengakibatkan kematian.

Sebabkan Kematian Mendadak

Brain-Heart-coherence

Jangan lama-lama bersedih saat Anda sedang patah hati. Menurut para ahli, kondisi patah hati atau sedih yang dialami seseorang lebih cepat mengantar dia pada kematian. Melansir LiveScience, menurut asisten kepala psikiatri di Zucker Hillside Hospital New York, Scott Krakower, secara medis hal tersebut bisa dibenarkan. Artinya, dunia medis memang mengenal istilah sindrom patah hati.

“Sindrom patah hati dapat terjadi sebagai respons dari penyebab stres akut dalam kehidupan seseorang,” kata Krakower. Krakower menjabarkan, kondisi stres bisa disebabkan oleh kepergian atau kematian seseorang yang amat dicintai. Selain itu, situasi menakutkan seperti kekerasan di rumah tangga atau perkelahian.

BrokenHeart

Menurut sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam JAMA Internal Medicine pada 2014, mengetahui atau menemukan seseorang yang dicinta atau pasangan meninggal dapat meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke dalam beberapa bulan setelahnya.

Para peneliti menemukan orang lansia yang kehilangan pasangan hidupnya dua kali berisiko mengalami serangan jantung atau stroke 30 hari setelah kematian sang pasangan dibandingkan orang yang tidak kehilangan.

Krakower menyatakan belum jelas frekuensi kejadian stroke akibat sindrom patah hati, namun ada beberapa kasus yang pernah tercatat.

Namun, seseorang akan lebih mungkin terkena serangan jantung atau stroke pada masa setelah kematian seseorang yang dekat dengannya, entah secara spesifik berkaitan dengan sindrom patah hati atau tidak,” kata Krakower.

Krakower menambahkan, penting bagi orang yang ditinggal untuk dapat berduka dan mengungkapkan perasaan mereka, bukan menyimpan dalam diri.

444

Bila merasa ada gejala fisik tertentu setelah kehilangan seseorang, maka harus segera periksa diri ke dokter. Salah satu contoh nyatanya adalah saat Debbie Reynolds yang ditinggal anak kesayangannya, Carrie Fisher. Reynolds meninggal selang satu hari setelah meninggalnya Fisher.

Kepergian Fisher menyisakan duka yang mendalam pada ibunya. Larut dalam sedih ini membuat Reynolds akhirnya menyusul sang anak. Hal ini terjadi juga pada kasus perampokan yang terjadi di Pulomas, dapat menjadi trauma bagi mereka yang ditinggalkan korban.

Mungkin tak logika bila dijabarkan atau dijelaskan bahwa mereka yang terlalu larut dalam kesedihan dan terus bersedih akan kisah cintanya dapat menyebabkan kematian bahkan dampak buruk dapat terjadi pada kesehatannya. Bukan Broken Heart Syndrome saja, melainkan dapat memicu penyakit lainnya.

Gangguan Kesehatan Yang Diakibatkan Patah Hati

cerpen-sedih

Penelitian membuktikan bahwa patah hati dapat menyebabkan gangguan fisik yang nyata bahkan di sejumlah kasus, bisa menjadi sangat serius. Jadi, apa yang sebenarnya terjadi dalam tubuh saat Anda patah hati? Berikut ulasannya, untuk itu simak terus ya guys.

  • Otak Mengirimkan Sinyal Rasa Rindu Yang Benar

otak-vs-hati

Galau dan kangen ternyata tidak hanya sebatas gombalan. Studi tahun 2010 yang dimuat dalam Journal of Neurophysiology menyatakan, saat Anda dipaksa untuk berpisah setelah menghabiskan sebagian hidup Anda terbiasa dengan kehadiran seseorang yang Anda cintai, otak akan mengirimkan sinyal rasa sakit ke sekujur tubuh dan menimbulkan berbagai gejala withdrawal serius, layaknya orang sakaw.

Sakit kepala mencengkeram, tidak nafsu makan, susah tidur dan “mata panda” yang Anda alami akibat putus cinta bisa dibuktikan secara ilmiah. Hal ini disebabkan oleh penurunan kadar dopamine dan oxytocin, senyawa kimiawi yang membuat bahagia, tergantikan oleh kadar kortisol (hormon stress) yang melejit. Persis dengan gejala fisik akibat putus obat yang dialami oleh pengguna kokain.

  • Tubuh Anda Membangun Respon Fight or Flight

the-brain-nervous-system

Saat terancam, otomatis Anda akan melakukan berbagai macam cara demi bertahan hidup. Respon fight or flight merujuk pada reaksi fisiologis yang timbul akibat suatu pemicu stres, baik secara mental maupun fisik.

Sebagai respon stres, sistem saraf simpatetik dalam otak akan diaktifkan akibat pelepasan sejumlah hormon secara tiba-tiba. Sistem saraf akan menstimulasi kelenjar adrenalin yang memicu produksi catecholamine guna menyiagakan tubuh Anda untuk mengambil tindakan.

Akan tetapi, produksi hormon di saat tubuh tidak membutuhkannya akan membawa sejumlah masalah lain, seperti sesak napas dan badan linu (akibat produksi kortisol berlebih), jantung berdebar kencang (akibat produksi kortisol dan adrenalin) dan penumpukan lemak dalam tubuh.

Jika saat patah hati Anda merasa nafsu makan sangat jauh berkurang, ini adalah akibat dari produksi kortisol dalam tubuh yang meningkat. Kortisol yang diproduksi saat stres akan menghambat aliran darah masuk ke dalam saluran pencernaan.

Akibatnya, produksi asam lambung pun meningkat dan memberikan rasa tidak nyaman dalam perut. Makanan yang masuk ke dalam tubuh pun terasa hambar dan tidak menggugah selera, membuat Anda makin ogah makan. Dan menurut sebuah studi tahun 1994, stres bahkan dapat mempengaruhi distribusi lemak, karena kortisol mempromosikan pengendapan lemak terutama di daerah perut Anda.

  • Tekanan Darah Tinggi

darah

Menurut American Heart Association, tekanan darah dapat meningkat sementara saat Anda dilanda stres namun stres semata belum dapat dipastikan sebagai penyebab penyakit darah tinggi kronis. Jadi, tidak perlu (tambah) khawatir soal ini.

Akan tetapi, seseorang yang memiliki riwayat darah tinggi dan dilanda stres perlu berhati-hati. Peningkatan tekanan darah dalam waktu singkat bagi orang-orang dengan kondisi ini akan mendorong terjadinya krisis hipertensif, yang menyebabkan gejala seperti sakit kepala, kesulitan bernapas bahkan hingga mimisan.

  • Jerawatan Dan Rambut Rontok

rambut-rontok

Lagi-lagi karena hormon. Sebuah studi tahun 2007 yang dimuat dalam The New York Post berhasil mengesampingkan faktor-faktor penyebab umum jerawat (seperti polusi, dengan memelajari penduduk Singapura di mana perubahan iklim amat jarang terjadi) dan memastikan bahwa stres benar-benar dapat mengakibatkan peradangan jerawat.

Peneliti mengatakan, sebesar 23% kasus peradangan jerawat muncul saat orang-orang berada di bawah tekanan stress yang sangat tinggi, seperti saat sedang patah hati.

Stres ternyata juga mengakibatkan rambut rontok. Daniel K. Hall-Flavin, M.D, seorang konsultan kesehatan di mayoclinic.org, menyatakan ada sejumlah alasan mengapa stress dapat mengakibatkan kerontokan rambut. Produksi hormon akibat stres akan melonggarkan folikel rambut secara bertahap, menyebabkan helaian rambut rontok saat disisir atau saat Anda sedang mencuci rambut.

Tidak hanya itu, stress juga bisa memicu kebiasaan Anda untuk mencabut rambut dari kulit kepala (disebut trichotillomania), sebagai solusi sementara menghadapi perasaan kalut dan tidak nyaman akibat stress, kesepian atau frustasi.

Bangkitlah dari keterpurukan. Jangan biarkan patah hati berlarut membunuh diri anda. Pengalaman pahit yang anda alami saat ini, akan menjadi pelajaran berharga bagi anda untuk ke depannya agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Yah patah hati memang hal yang sangat sulit untuk disembuhkan.

Bahkan ketika hendak pulih hati rasanya memiliki rasa trauma. Namun dalam hidup hal seperti ini memang kerap terjadi bahkan patah hati kerap mendatangi siapa pun. Nah, untuk itu demikianlah pembahasan hari ini mengenai ‘patah hati’ semoga artikel ini berguna bagi pembaca sekalian. ?