Beragam penelitian menunjukkan bahwa hampir 76 persen dari kasus penurunan kognitif otak dipengaruhi oleh gaya hidup yang buruk dan faktor lingkungan sekitar. Untuk mencegah demensia dan kondisi kesehatan serius lainnya, sebaiknya Anda mulai mengubah gaya hidup Anda. Lalu apa benarkah demensia bisa teratasi dengan sebuah pernikahan? Nah sebelum membahas mengenai “Menikah Dapat Mengurangi Risiko Demensia” ada baiknya jika mengetahui apa yang dimaksud dengan demensia. Untuk itu simak ulasannya dibawah ini.

Pengertian Dimensia

Demensia adalah sebuah sindrom yang berkaitan dengan penurunan kemampuan fungsi otak, seperti berkurangnya daya ingat, menurunnya kemampuan berpikir, memahami sesuatu, melakukan pertimbangan dan memahami bahasa, serta menurunnya kecerdasan mental. Sindrom ini umumnya menyerang orang-orang lansia di atas 65 tahun. Demensia mempengaruhi cara berpikir, kelakuan dan kemampuan untuk melakukan pekerjaan biasa sehari-hari.

Fungsi otak cukup banyak terpengaruh sehingga mengganggu pergaulan dan pekerjaan normal penderita. Tanda khas demensia adalah ketidakmampuan melakukan kegiatan sehari-hari sebagai akibat dari berkurangnya kemampuan kognitif (mengenali). Apa saja tanda-tanda dan gejala demensia?

  1. Kehilangan ingatan.
  2. Kesulitan berbahasa, berkomunikasi, dan melakukan kegiatan sehari-hari.
  3. Bingung akan waktu dan tempat.
  4. Kesulitan berpikir abstrak.
  5. Salah menempatkan benda.
  6. Perubahan mendadak pada perilaku, kepribadian dan mood.
  7. Kehilangan inisiatif atau apatis.

Demensia disebabkan oleh kerusakan sel-sel otak. Hal ini dapat menghambat sel-sel otak dalam berkomunikasi dengan orang lain, mempengaruhi perilaku dan perasaan. Kebanyakan kerusakan pada otak akibat demensia permanen dan memburuk sering berjalannya waktu. Demensia dibedakan menjadi dua kategori demensia yang dapat disembuhkan dan tidak dapat disembuhkan. Kategori pertama adalah demensia yang dapat disembuhkan dengan obat dan penanganan yang baik, sementara kategori kedua adalah demensia yang terus memburuk dan tidak dapat dicegah atau disembuhkan.

Berikut adalah penyebab demensia yang dapat disembuhkan:

  • Penyalahgunaan konsumsi zat terlarang dalam jangka panjang.
  • Tumor otak yang dapat diangkat.
  • Hematoma subdural (pendarahan di kepala pada rongga subdural).
  • Gangguan kelenjar tiroid.
  • Kurangnya vitamin, terutama Vitamin B12.
  • Hipoglikemia atau gula darah rendah.
  • Hidrosefalus tekanan normal (membesarnya ventrikel otak yang dapat menyebabkan hilangnya ingatan).

Dan anda dapat melihat beberapa penyebab demensia yang tidak dapat disembuhkan.

Penyakit Alzheimer. Merupakan penyebab demensia paling umum. Penyebabnya masih belum diketahui, namun beberapa kelainan genetik dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit ini. Pada otak ditemukan plak berupa penggumpalan protein beta-amyloid, juga jalinan jaringan fibrosa yang terbentuk oleh protein tau.

Demensia vaskuler. Gangguan pada pembuluh darah otak merupakan penyebab demensia tertinggi kedua. Kondisi ini juga dapat menyebabkan stroke dan penyakit lainnya yang berkaitan dengan gangguan pada pembuluh darah.

Lewy body dementia. Lewy body adalah penggumpalan protein abnormal pada otak, yang juga bisa ditemukan pada Alzheimer dan Parkinson.

Demensia frontotemporal. Sekelompok penyakit yang ditandai oleh degenerasi sel otak bagian frontal dan temporal, yang umumnya diasosiasikan dengan perilaku, kepribadian, hingga kemampuan berbahasa.

Demensia campuran. Umumnya dialami oleh orang-orang lansia di atas 80 tahun tanpa penyebab yang jelas. Biasanya demensia campuran meliputi Alzheimer, demensia vaskuler, dan Lewy body dementia.

Dalam kondisi parah, penderita dapat mengalami gejala lanjutan seperti kelumpuhan di salah satu sisi tubuh, tidak mampu menahan kemih, penurunan nafsu makan, hingga kesulitan menelan. Konsultasi pada dokter sebaiknya dilakukan apabila seseorang mengalami salah satu atau beberapa gejala demensia, guna mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut. Lalu benarkah bahwa dengan menikah dapat mengurangi risiko demensia? Untuk itu kita simak bersama ulasan berikut ini.

Menikah Bantu Kurangi Risiko Demensia

Menikah ternyata dapat mengurangi risiko penyakit demensia. Sepertinya banyak manfaat yang bisa kita dapat setelah menikah, selain sekadar memulai langkah baru membina keluarga bersama pasangan. Orang yang hidup sendiri berisiko terkena penyakit demensia 42 persen lebih tinggi dibanding mereka yang telah menikah. Sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of Neurology, Neurosurgery & Psychiatry telah menemukan bahwa menjadi lajang sepanjang sisa hidup dapat meningkatkan risiko pengembangan demensia sebesar 42 persen dibandingkan pasangan yang sudah menikah.

Orang-orang yang telah bercerai dan belum menemukan pasangan hidupnya kembali juga memiliki risiko lebih besar dengan kemungkinan meningkat 20 persen. Para peneliti dari Universitas College London meneliti temuan dari 15 penelitian terpisah yang semuanya melihat korelasi antara risiko demensia dan status perkawinan. Perlu diketahui, demensia bukan termasuk penyakit fisik, melainkan sebuah kondisi ketika fungsi otak mengalami penurunan, seperti kehilangan memori atau kemampuan menilai.

Para peneliti menyebutkan bahwa menikah mengurangi risiko terkena demensia dalam berbagai hal. Menikah memberikan perbedaan tingkat dalam keterkaitan sosial dan interaksi interpesonal dari hari ke hari, sehingga dapat meningkatkan ‘cadangan kognitif’ pada seseorang. Cadangan kognitif adalah ‘daya pegas‘ dalam tubuh seseorang untuk melawan kerusakan pada otak akibat demensia,” ujar pemimpin studi Andrew Sommerlad selaku psikiater geriatrik.

Artinya, otak memiliki strategi yang membuat mereka bertahan dari kerusakan tanpa menunjukkan gejala demensia. Beberapa penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa menikah membuat seseorang menjadi lebih sehat dalam beberapa hal seperti meningkatkan olahraga dan pola makan sehat, serta mengurangi merokok dan konsumsi alkohol. Hal tersebut dipercaya dapat mengurangi risiko demensia.

Dr. Andrew Sommerlad selaku psikiater di University College London menjelaskan pada Independent, “Satu hal yang terjadi ketika seseorang mengalami penyakit demensia, yaitu memiliki akumulasi kerusakan di bagian otak. Penyakit seperti ini bisa dikurangi dengan menjaga kesehatan melalui pola makan sehat dan olahraga.

Mempertahankan kehidupan mental dan sosial yang aktif dapat menjadi cara untuk mengembangkan kapasitas otak, yang disebut cadangan kognitif. Menikah menjadi cara bagi setiap pasangan untuk saling merawat dan mendukung satu sama lain, sehingga secara tidak langsung memberi kontribusi faktor dalam mengurangi risiko penyakit demensia maupun penyakit lain di masa mendatang.

Adapun pencegahan sebelum terjadinya demensi, sebagai berikut;

Mencegah Risiko Demensi Sejak Usia Muda

Orang awam sering menyebut penyakit ini sebagai “pikun”. Gejala demensia bisa semakin parah seiring berjalannya waktu. Tidak ada cara pasti untuk mencegah demensia. Namun, mengubah gaya hidup sedini mungkin dapat membantu menurunkan risiko terkena demensia saat Anda tua nanti. Apa saja yang bisa Anda lakukan untuk mencegah demensia?

  • Tidur Yang Cukup

Jika mood Anda sangat buruk seakan dunia berakhir ketika kurang tidur, waspadalah. Anda mungkin berisiko lebih tinggi untuk terkena gejala penyakit Alzheimer. Sudah umum bagi penderita demensia dan penyakit Alzheimer untuk menderita insomnia atau masalah tidur lainnya.

Namun penelitian baru menunjukkan bahwa gangguan tidur bukan hanya timbul sebagai gejala Alzheimer, namun termasuk juga faktor risikonya. Kualitas tidur yang buruk meningkatkan produksi protein “sampah” beta-amiloid di otak yang terkait dengan perkembangan gejala demensia dan Alzheimer. Tidur nyenyak terutama diperlukan untuk membuang racun otak dan pembentukan ingatan yang lebih kuat.

  • Olahraga Teratur

Adalah cara paling efektif untuk menangkal penurunan kognitif akibat demensia dan mengurangi risiko penyakit Alzheimer. Olahraga melindungi terhadap Alzheimer dengan merangsang kemampuan otak untuk mempertahankan koneksi saraf yang lama dan juga membuat yang baru. Sesi olahraga yang baik sebaiknya terdiri dari variasi latihan kardio, latihan kekuatan (beban), dan keseimbangan atau kelenturan tubuh.

Latihan kardio membantu jantung memompa lebih banyak darah segar ke otak yang bisa digunakan sebagai energi. Latihan kekuatan berguna untuk membangun massa otot untuk memompa kerja otak. Kombinasi semua latihan ini telah terbukti secara drastis dapat mengurangi risiko Alzheimer hingga 50 persen. Rutinlah olahraga setidaknya 150 menit dalam seminggu 30 menit untuk lima hari dalam seminggu. Intensitas olahraga yang ideal ditandai dengan napas yang sedikit terengah-engah, namun masih tetap bisa mengobrol santai.

  • Berhenti Merokok

Ini mungkin hal yang sangat sulit untuk ditinggalkan begitu saja. Jika Anda sudah merokok, cobalah untuk berhenti. Merokok menyebabkan pembuluh darah menyempit, yang dapat menyebabkan kenaikan tekanan darah. Hipertensi kemudian meningkatkan risiko Anda terkena demensia. Satu studi menemukan bahwa perokok yang berusia di atas 65 tahun memiliki risiko Alzheimer hampir 80% lebih tinggi daripada mereka yang tidak pernah merokok. Saat Anda berhenti merokok, manfaat kesehatannya bisa Anda rasakan segera.

  • Jaga Berat Badan

Kelebihan berat badan bisa meningkatkan tekanan darah, yang meningkatkan risiko terkena demensia. Risiko ini akan lebih tinggi jika Anda mengalami obesitas. Selain itu, menjaga berat badan sehat juga akan mengurangi risiko diabetes tipe 2, stroke, penyakit jantung, hingga demensia.

Gimana, sudah pahamkan mengapa dikatakan bahwa mereka yang telah menikah kemungkinan kecil untuk mendapatkan risiko demensia. Untuk itu bagi kalian yang masih sendiri disegerakan untuk kepelaminan ya. 🙂